Selasa, 12 Februari 2013

LAPORAN CARA PEMBUDIDAYAAN RUMPUT LAUT (E. cotonii)


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai 81.000 km merupakan kawasan pesisir dan lautan yang memiliki berbagai sumberdaya hayati yang sangat besar dan beragam. Berbagai sumberdaya hayati tersebut merupakan potensi pembangunan yang sangat penting sebagai sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor merupakan sumber devisa bagi negara dan budidayanya merupakan sumber pendapatan nelayan, dapat menyerap tenaga kerja, serta mampu memanfaatkan lahan perairan pantai di kepulauan Indonesia yang sangat potensial. Sebagai  negara kepulauan, maka pengembangan rumput laut di Indonesia dapat dilakukan secara luas oleh para petani/nelayan.
Daerah Lontar merupakan salah satu daerah di kabupaten Serang Provinsi Banten yang potensial untuk pengembangan rumput laut. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu dari aspek teknis usaha budidaya rumput laut mudah dilakukan dan waktu pemeliharaan  relatif singkat, sedangkan dari aspek ekonomi usaha menguntungkan karena biaya pemeliharaan murah.
Salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan di daerah Lontar adalah Eucheuma cottonii. Jenis ini mempunyai nilai ekonomis penting karena sebagai penghasil karaginan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktikum ini adalah agar para praktikan dapat mengetahui cara menanam, dan memanen rumput laut,serta dapat mengetahui penanganan rumput laut setelah panen.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Eucheuma cottonii
Menurut Doty (1985), Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) dan berubah nama menjadi Kappaphycus alvarezii karena karaginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Maka jenis ini secara taksonomi disebut Kappaphycus alvarezii (Doty 1986). Nama daerah ‘cottonii’  umumnya lebih dikenal dan biasa dipakai dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional. Klasifikasi Eucheuma cottonii menurut Doty (1985) adalah sebagai berikut :
Kingdom         :  Plantae
Divisi               :  Rhodophyta
Kelas               :  Rhodophyceae
Ordo                :  Gigartinales
Famili              :  Solieracea
Genus              :  Eucheuma
Species            :  Eucheuma alvarezii
   Kappaphycus alvarezii (Doty, 1985)

Ciri fisik Eucheuma cottonii adalah mempunyai thallus silindris, permukaan licin, cartilogeneus. Keadaan warna tidak selalu tetap, kadang-kadang berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah.  Perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor lingkungan.  Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan (Aslan 1998). Penampakan thalli bervariasi mulai dari bentuk sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus runcing memanjang, agak jarang-jarang dan tidak bersusun melingkari thallus.  Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan ke daerah basal (pangkal). Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari (Atmadja 1996). Umumnya Eucheuma cottonii tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu (reef).  Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang mati (Aslan 1998).
Beberapa jenis Eucheuma mempunyai peranan penting dalam dunia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak karaginan. Kadar karaginan dalam setiap spesies Eucheuma berkisar antara 54 – 73 % tergantung pada jenis dan lokasi tempat tumbuhnya.  Jenis ini asal mulanya didapat dari perairan Sabah (Malaysia) dan Kepulauan Sulu (Filipina).  Selanjutnya dikembangkan ke berbagai negara sebagai tanaman budidaya.  Lokasi budidaya rumput laut jenis ini di Indonesia antara lain Lombok, Sumba, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, Kepulauan Seribu, dan Perairan Pelabuhan Ratu (Atmadja  1996).

2.2 Budidaya Euchema cottonii
Yunizal et al. (2000) menyatakan bahwa sebagai bahan baku pengolahan, rumput laut harus dipanen pada umur yang tepat.  Rumput laut jenis Eucheuma dipanen setelah berumur 1,5 bulan atau lebih. Rumput laut dipanen setelah tingkat pertumbuhannya  mencapai puncak yaitu beratnya mencapai ± 600 g/rumpun. Lama pemeliharaan tergantung dari lokasi, jenis rumput laut serta metode penanaman.
Kandungan karaginan pada Eucheuma sp. mencapai puncak tertinggi pada umur antara 6 – 8 minggu dengan cara pemanenan memotong bagian ujung  tanaman yang sedang tumbuh (Departemen Pertanian 1995). Pemanenan dilakukan bila rumput laut telah mencapai berat tertentu, yakni sekitar empat kali berat awal (dalam waktu pemeliharaan 1,5 – 4 bulan).  Untuk jenis Eucheuma sp dapat mencapai berat sekitar 500-600 g, maka jenis ini sudah dapat dipanen, masa panen tergantung dari metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam (Aslan 1998).
Mukti (1987) menyatakan bahwa pemanenan sudah dapat dilakukan setelah 6 minggu yaitu saat tanaman dianggap cukup matang dengan kandungan polisakarida maksimum.  Pemanenan rumput laut dilakukan  secara keseluruhan (full harvest) tanpa bantuan alat mekanik.  Kadi dan Atmaja (1988) menambahkan bahwa pemanenan rumput laut dapat dilakukan sekitar 1 - 3 bulan dari saat penanaman. Selanjutnya dikatakan bahwa persyaratan  lingkungan yang harus dipenuhi bagi budidaya Eucheuma adalah:
Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu karang, Tempat dan lingkungan perairan tidak mengalami pencemaran, Kedalaman air pada waktu surut terendah 1- 30 cm, Perairan dilalui arus tetap dari laut lepas sepanjang tahun, Kecepatan arus antara 20 - 40 m/menit, Jauh dari muara sungai, Perairan tidak mengandung lumpur dan airnya jernih serta Suhu air berkisar 27° – 28°C dan salinitas berkisar 30 -37 ppt.

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut antara lain adalah:
1.      Suhu
Suhu perairan mempengaruhi laju fotosintesis. Nilai suhu perairan yang optimal untuk laju fotosintesis berbeda pada setiap jenis. Secara prinsip suhu yang tinggi dapat menyebabkan protein mengalami denaturasi, serta dapat merusak enzim dan membran sel yang bersifat labil terhadap suhu yang tinggi.  Pada suhu yang rendah, protein dan lemak membran dapat mengalami kerusakan sebagai akibat terbentuknya kristal di dalam sel. Terkait dengan itu, maka suhu sangat mempengaruhi beberapa hal yang terkait dengan kehidupan rumput laut, seperti kehilangan hidup, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, fotosintesis dan respirasi (Eidman 1991). Sulistijo (1994) menyatakan kisaran suhu perairan yang baik untuk rumput laut Eucheuma adalah 27° – 30°C.

2.      Arus
Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas air laut dan pasang surut yang bergelombang panjang dari laut terbuka (Nontji  1987).  Arus mempunyai peranan penting dalam penyebaran unsur hara di laut.  Arus ini sangat berperan dalam perolehan makanan bagi alga laut karena arus dapat membawa nutrien yang dibutuhkannya. Menurut Sulistijo (1994),  salah satu syarat untuk menentukan lokasi Eucheuma sp adalah adanya arus dengan kecepatan  0,33 - 0,66 m/detik.

3.      Salinitas
Di alam rumput laut Eucheuma sp tumbuh berkembang dengan baik pada salinitas yang tinggi.  Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar dari sungai dapat menyebabkan pertumbuhan rumput laut  Eucheuma  sp menurun. Sadhori (1989) menyatakan bahwa salinitas yang cocok untuk  pertumbuhan rumput laut berkisar 31-35 ppt. Menurut Dawes (1981), kisaran salinitas yang baik bagi pertumbuhan Eucheuma sp adalah 30-35 ppt.  Soegiarto et al. (1978) menyatakan kisaran salinitas yang baik untuk Eucheuma sp adalah 32 - 35 ppt.

4.      pH
Keasaman atau derajat pH merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan alga laut, sama halnya dengan faktor-faktor lainnya.  Aslan (2005) menyatakan bahwa kisaran pH maksimum untuk kehidupan organisme laut adalah 6,5 - 8,5.

2.3 Penanganan Pasca Panen dan Pengolahan
Proses penanganan pasca panen rumput laut masih cukup minim dimana proses penanganan pasca panennya hanya meliputi pencucian dengan air laut, penjemuran, pensortiran, penimbangan dan pengemasan akan tetapi apabila ada permintaan pasar yang meminta produk pasca panen rumput lautnya meliputi proses perendaman air tawar guna menghilangkan atau mengurangi kadar garam pada rumput laut maka petani disana juga akan melakukan proses penanganan pasca panen meliputi pencucian(air laut) dan perendaman (air tawar), penjemuran tahap awal, penggaraman, penjemuran tahap ke dua dan setelah itu penggemasan. Akan tetapi cara yang kedua ini sangat jarang dilakukan oleh petani disana dengan pertimbangan mempermudah serta mempercepat proses penanganannya.


BAB 3
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Kegiatan praktikum Komoditas dan Penanganan Hasil Perairan mengenai cara pembudidayaan rumput laut dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 8 Desember 2012. Tepatnya pukul 09.00 WIB. Adapun tempat pelaksanaan di Tempat Budidaya Rumput Laut di Desa Lontar Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang Banten.

3.2 Alat dan bahan
            Ada pun alat dan bahan yang di gunakan untuk praktikum tentang pembudidayaan rumput laut ini yaitu transek, sechidisk, bola pingpong, tongkat ukur, termometer, refrakto meter, DO meter, pH meter, serta aquadestilata.

 3.2 Metode Pengumpulan Data
             Metode pengumpulan data dengan berbagi tugas ada yang pengukuran parameter fisika dan kimia, ada yang berkunjung ke rumah warga untuk mengamati cara pengolahan rumput laut, ada yang wawancara dengan petani rumput laut, dan semua data kami kumpulkan lalu kami mengerjakannya secara berkelompok serta tidak lupa kami mendokumentasikannya untuk bahan presentasi .     

3.3 Prosedur Kerja
            Prosedur kerja dilakukan dengan observasi lapang dan wawancara kepada pak  RT Asmawi dan beberapa petani rumput lain setempat yang berada di desa Lontar kecamatan Tirtayasa kabupaten Serang Banten. Observasi bertujuan untuk mengetahui laut informasi-informasi yang terkait mengenai cara pembudidayaan rumput laut dan bisa mengetahui penanganan rumput laut pada pra panen, panen dan pasca panen, mengetahui jenis habitat yang cocok untuk pembudidayaan dan mengetahui cara pengolahan hasil rumput laut.

Dalam melakukan observasi tersebut yang telah dilakukan, yaitu :
·         Observasi Lapangan
Observasi lapangan merupakan kegiatan pengamatan secara langsung terhadap pembudidayaan rumput laut dan pengukuran arus,salinitas, kecerahan, DO dan pH nya beserta mengamati cara pengolahan dengan bahan baku rumput laut.
·         Wawancara
Wawancara merupakan kegiatan penggalian informasi terhadap beberapa petani rumput laut  yang melakukan pemanenan rumput laut. Wawancara ini sebagai sarana untuk mengetahui informasi-informasi mengenai cara pembudidayaan, cara perawatan, cara pemanenan pra panen dan pasca panen, waktu dan musim pembudidayaan, dan cara peneringan rumput laut kering asin dan kering tawar, beserta mengetahui cara pengolahan bahan baku rumput laut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh anggota kelompok.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
A.    Data perhitungan pada lokasi Lontar

Arus 1                         : 8, 22                          Suhu : 29°C
            Arus 2                         : 7, 75                          PH    : 8, 06    
            Kedalaman      : 81 cm                                    DO   : 1, 77 mgl
Kecerahan       : 60 cm                                             : 2, 55 Prt


B.     Data lembar Kuisioner

1.      Budidaya rumput laut
umur  25 hari untuk bibit sekitar 1 cm thallusnya muda segar, keras tidak layu, dan kenyal. Di ddaerah lontar hanya memproduksi eucheuma cottonii. Peralatan budidaya seperti patok karena metodenya lepas landas, saat angin  utara bagus untuk penanaman rumput laut.  Untuk perawatan    rumput laut dipantau dibersihakan dari kotoran yg melekat dan mengganti tanaman rusak dengan yg baru. Umur pemanenan sekitar 45 hri namun jika ditemukan penyakit 40 hari sudah bisa dipanen dengan cara di angkat sluruh tanaman kedalam perahu. Kendala dalam pembudidayaan rumput laut ini yaitu cuaca panas, terkena rumput/rumput balenang dan bulu batu.

2.      Penanganan pada saat panen
Dibersihkan rumput laut dari kotoran/tanaman lain yg melekat dan melepaskan tali ris yg penuh dengan ikatanrumput laut dari tali utama. Kendala pada penanganan saat panen ini yaitu apabila kedalaman air/air menjadi tinggi.


3.      Penanganan pasca panen
Menjemur rumput laut selama maksimal 2 hari dan di cuci dengan air kapur di fermentasikan selama 3 hari. Setelah itu di cuci dengan air laut dan di cuci kembali dengan air kapur lalu di jemur. Kendala pada pasca panen ini yaitu jika kriteria pabrik terlalu signifikan sehingga tidak dapat di terima oleh pabrik atau harganya relatif menjadi lebih murah.

4.      Pengolahan produk rumput laut
·         Data Pemilik
Bapak Asmawi
            50 th
            Rt 18 lontar kp. Kadiri
            Tahun mlai usaha 2009

·         Dodol Rumput laut :
Jenis produk                : dodol, manisan
Bahan baku dan harga : tepung ketan
Bahan tambahan          : fanili, kayu manis, jeruk nipis.

Tahap proses produksi Dodol Rumput laut :
Untuk pembuatan dodol  rumput laut direndam selama 3  hari dan air selalu diganti 1 hari sekali agar tidak bau. setelah itu ditimbang dan dihancurkan,bisa di blander atau dipotong kecil-kecil. Kemudian diberi rasa tambahan, lalu dimasak dengan perbandingan 1 kg rumput laut menggunakan gula 1 kg, tepung ketan 1 ons, air 1 liter dan di aduk sampai mengental/ menjendal lalu di angkat ditaruh di nampan/ wadah. Setelah dingin, dodol dipotong-potong sesuai ukuran, kemudian dijemur hingga kering. Dodol kering asam harganya berkisaran dari Rp.10.000 sampai Rp.12. 000.

Tahap proses produksi Manisan Rumput laut:
Untuk pembuatan manisan rumput laut ini, rumput laut di rendam selama 3 hari menggunakan air bersih dan di tambahkan irisan jeruk nipis agar bau pada rumput laut menghilang. Pada 1 hari sekali air diganti dan di beri perasan jeruk nipis. Setelah 3 hari, rumput laut ditiriskan dan di rendam dengan larutan gula yang sudah dicairkan dengan air yang sudah dingin. Selama 1 hari sekali rumput laut ditiriskan dan gula di panaskan kembali, setelah air larutan gula dingin rumput laut di rendam lagi. Lakukan pengulangan tersebut hingga 3 hari.

4.2 Pembahasan
Pada hal ini membahas tentang budidaya rumput laut yang dilakukan di daerah Lontar, di sini rumput laut dapat hidup pada kedalaman 81cm karena posisi ini masih terdapat cahaya matahari yang dapat menembus perairan. Kecepatan arus pada perairan di perairan lontar ini sekitar 8,22 s/m, dan mempunyai pH sekitar 8,06 dan suhu 29oc. Pada keadaan ini rumput laut dapat tumbuh dengan baik dan subur. Budidaya rumput laut ini menggunakan sistem longline yang menggunakan tali yang terbuat dari bahan plastik, keunggulan mengunakan tali plastik adalah daya tahan lama dan lebih kuat. Hanya yang mempengaruhi pertumbuhan pada rumput laut pada sistem budidaya ini adalah pada saat musim kemarau, jika rumput laut terkena sinar matahari rumput laut terhambat pertumbuhanna dan mudah terserang penyakit seperti eyes-eyes.
Ciri-ciri rumput laut euchuema cottonii yang bagus adalah thallusnya bercabang-cabang berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina  Eucheuma cottonii  tidak teratur menutupi  thallus  dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulannya yaitu para nelayan yang membudidayakan rumput laut yaitu dengan menggunakan media pelampung seperti kokang dan botol-botol hampa udara yang menerapkan metode longline yang di buat menggunakan bambu yang di sambung dengan tali tambang.
Rumput laut Eucheuma cottonii di panen sekitar 45 hari namun jika ditemukan penyakit, 40 hari sudah bisa dipanen dengan cara di angkat seluruh tanaman kedalam perahu.
Setelah di panen, rumput laut di jemur selama maksimal 2 hari dan di cuci dengan air kapur di fermentasikan selama 3 hari. Setelah itu di cuci dengan air laut dan di cuci kembali dengan air kapur lalu di jemur.

5.2 Saran
Pada praktikum kali ini hanya di sarankan untuk lebih baik lagi ke depannya agar lebih lancar dalam menjalani praktikum lapangan ini.

DAFTAR PUSTAKA


15 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar