Sabtu, 04 Mei 2013

PEMINDAHAN BIAKAN BAKTERI DARI AGAR MIRING KE AGAR MIRING


ABSTRAK
Isolasi suatu mikrobia ialah memisahkan mikrobia tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan. Adapun tujuanya pada praktikum mikrobiologi tentang pemindahan biakan bakteri dari agar miring ke agar miring untuk mengetahui mengisolasi bakteri dari lingkungan akuatik dengan cara media agar miring dengan menggunakan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum isolasi bakteri metode cawan gores kali ini yaitu cawan petri,  tabung reaksi, pipet bulp adapun bahan yang digunakan yaitu usus ikan yang sudah di shaker, TSA, TSB, Larutan Fisiologi, alkohol, batang L pengaduk dan kawat Ose.
Kata kunci : Alkohol, Bakteri, batang L, Isolasi bakteri, Mikrobiologi.

PENDAHULUAN
Latar belakang
Bakteri mudah ditemukan di air, udara dan tanah. Mereka hidup dalam suatu koloni, baik bersimbiose, bebas ataupun parasit pada makhluk hidup. Jumlah bakteri di alam sangat melimpah dengan keragaman yang sangat tinggi. Untuk mempelajari kehidupan dan keragaman bakteri, diperlukan suatu usaha untuk mengembakbiakkan mereka dalam skala laboratorium. Pengembangbiakan ini dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dari sumber isolat, seperti tanah, udara, sisa makanan, dan lain-lain, dalam media yang mengandung nutrisi. Media pertumbuhan bakteri sangat beragam, mulai dari media selektif, media penyubur, media diferensial, dll. Masing-masing media memiliki fungsi berbeda dan digunakan tergantung tujuan dari praktikan. Dalam mempelajari sifat pertumbuhan dari masing-masing jenis mikroorganisme, maka mikroorganisme tersebut harus dipisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga didapatkan kultur murni yang disebut isolat. Kultur murni merupakan suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari satu species atau satu galur mikroorganisme. Kultur murni diperoleh dengan cara isolasi menggunakan metode tuang maupun gores (Pelczar dan Chan, 1986).
Isolasi suatu mikrobia ialah memisahkan mikrobia tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan. Isolasi harus diketahui cara-cara menanam dan menumbuhkan mikrobia pada medium biakan serta syarat-syarat lain untuk pertumbuhannya (Jutono, 1980). Memindahkan bakteri dari medium lama kedalam medium yang baru diperlukan ketelitian dan pengsterilan alat-alat yang digunakan, supaya dapat dihindari terjadinya kontaminasi. Pada pemindahan bakteri dicawan petri setelah agar baru, maka cawan petri tersebut harus dibalik, hal ini berfungsi untuk menghindari adanya tetesan air yang mungkin melekat pada dinding tutup cawan petri (Dwijoseputro, 1987).
Teknik aseptis sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan disamping kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan yang dapat mencemari. Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Udara merupakan media masuknya suatu kontaminan ke dalam wadah kultur bakteri. Keragaman yang luas dalam hal tipe nutrisi diantara bakteri, diimbangi oleh tersedianya berbagai macam media yang banyak macamnya untuk kultur murni.  Macam media tersebut dapat dibagi berdasarkan bentuknya dan susunannya. Berdasrkan bentuknya, media dibagi atas media cair, semi cair dan padat.  Sedang menurut susunannya, media dapat dibagi atas media kompleks dan media sintetik. Adapun dalam percobaan ini, jenis media yang digunakan adalah jenis media SWC (Sea Water Complete) dan dan NB (Nutrient Broth) serta bakteri yang digunakan adalahPseudoalteromonas sp.

Tujuan
Adapun tujuanya pada praktikum mikrobiologi tentang pemindahan biakan bakteri dari agar miring ke agar miring untuk mengetahui mengisolasi bakteri dari lingkungan akuatik dengan cara media agar miring.

METODOLOGI
Waktu dan tempat
Praktikum pemindahan biakan bakteri dari agar miring ke agar miring ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 26 April 2013 pukul 15:30 WIB di laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Unipersitas Sultan Ageng Tirtayasa.



Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum isolasi bakteri metode cawan gores kali ini yaitu cawan petri,  tabung reaksi, pipet bulp adapun bahan yang digunakan yaitu usus ikan yang sudah di shaker, TSA, TSB, Larutan Fisiologi, alkohol, batang L pengaduk dan kawat Ose.

Prosedur kerja
Prosedur kerja pada praktikum pemindahan biakan bakteri dari agar miring ke agar miring ini yaitu pertama Alat dan bahan yang digunakan disiapkan terlebih dahulu di atas meja kerja. Lub inokulasi/jarum ose dipanaskan diatas pembakar bunsen hingga seluruhnya memijar. Kemudian kedua sumbat tabung reaksi dibuka dengan menggunakan jari kelingking untuk sumbatan tabung reaksi pertama dan untuk tabung reaksi kedua dengan menggunakan jari disekitarnya. Tabung reaksi yang telah dibuka penyumbatnya didekatkan di dekat api agar tidak ada mikroba dari luar masuk ke dalam pemindahan biakan mikroba tersebut. Kemudian jarum ose dimasukkan kedalam salah satu tabung reaksi untuk mengambil biakan dan memindahkannya ke dalam tabung lainnya yang menjadi tempat tumbuhnya atau sebagai sampel pengamatan dan mulut kedua tabung reaksi tersebut dipanaskan kembali agar tetap dalam keadaan steril. Tabung reaksi yang sudah dipanaskan ditutup kembali dan hasil pemindahan yang menjadi objek pembiakan diberi label agar mudah dikenali serta kedua tabung tersebut diletakkan kembali ke dalam rak tabung reaksi. Sementara jarum ose tetap disterilkan kembali dengan cara dibakar kembali agar bisa digunakan dalam pemindahan biakan yang lainnya.
Untuk penggoresan biakan dapat dilakukan hampir sama dengan metode di atas namun, dalam kasus ini dilakukan pada agar miring yaitu pemindahan sejumlah kecil bakteri isolat A ke dalam tabung yang berisi agar miring SWC steril dengan cara meletakkan lub inokulasi bulat yang telah berisi bakteri pada dasar kemiringan agar dan ditarik kearah mulut tabung dengan gerakan zig-zag.

KESIMPULAN
Teknik aseptik dalam proses-proses pengerjaan yang berkaitan dengan mikrobiologi, memerlukan ketelitian dan keakuratan serta kesterilan yang harus selalu dijaga agar terbebas dari kontaminan. Penguasaan teknik aseptik sangat diperlukan dalam keberhasilan praktikum mikrobiologi dan hal tersebut merupakan salah satu metode permulaan yang harus dipelajari oleh seorang ahli mikrobiologi. Kontaminasi pada media NA dan SWC dapat dilihat dengan melihat warna media, yaitu putih susu pada NA dan keruh pada SWC.


DAFTAR PUSTAKA
http://anyleite.wordpress.com/2013/02/13/isolasi-bakteri/. Diakses pada 2 mei 2013 pada pukul 20.37 WIB


PENGARUH PENURUNAN SUHU TERHADAP TINGKAH LAKU IKAN


PENGARUH PENURUNAN SUHU TERHADAP TINGKAH LAKU IKAN


PENDAHULUAN
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut (Campbell. 2004; 288). Artinya bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Tunas. 2005;16).
     Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie. 1990; 180). Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu (Kanisius. 1992; 22). Menurut Soetjipta (1993; 71), Air memiliki beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari pada udara. Selanjutnya Soetjipta menambahkan bahwa walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air daripada di udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang sempit.
     Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungan sekelilingnya (Hoole et al, dalam Tunas. 2005; 16). Sebagai hewan air, ikan memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan (Yushinta. 2004: 14). Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air, beberapa spesies mampu hidup pada suhu air mencapai 290C, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas(Sukiya. 2005; 9).
Suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan, mulai dari telur, benih sampai ukuran dewasa. Suhu air akan berpengaruh terhadap proses penetasan telur dan perkembangan telur. Rentang toleransi serta suhu optimum tempat pemeliharaan ikan berbeda untuk setiap jenis/spesies ikan, hingga stadia pertumbuhan yang berbeda. Suhu memberikan dampak sebagai berikut terhadap ikan :
a)    Suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan peningkatan suhu
b)    Peningkatan aktivitas metabolisme ikan
c)    Penurunan gas (oksigen) terlarut
d)    Efek pada proses reproduksi ikan
e)    Suhu ekstrim bisa menyebabkan kematian ikan. (Anonim, 2009. SITH ITB)

LANGKAH KERJA
Langkah kerja pada praktikum Pengaruh Penurunan Suhu Terhadap tingkah laku Ikan adalah menyiapkan 1 buah akuarium dengan ikan mas 15 ekor kemudian akuarium diberi air dan ikan dimasukan, akuarium di isi dengan batu es kemudian diamati posisi ikan mas yang berda di permukaan, kolom, dan dasar perairan dihtung setiap penurunan 1°c agar diketahuan pergerakan ikan setelah ada perlakuan penurunan suhu. Setelah diperoleh data, data diubah kedalam bentuk grafik ms. Exel dengan cara membuat table percobaan kemudian diblok dan pilih menu insert lalu kolom akan muncul grafik sesuai data yang kita inginkan.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
No
Menit
Permukaan
Kolom
dasar
Oleng
Ket
1
3
1
4
10
1
Pergerakan ikan mulai melambat
2
6
2
6
7
1
3
9
2
5
8
3
4
12
1
6
8
4
5
15
1
5
9
7
6
18
4
3
8
1
7
21
2
3
10
10
Tabel 1 pengaruh penurunan suhu terhadap tingkah laku ikan

Pembahasan
Pada tabel 1 menunjukan bahwa ikan semakin lama waktu penurunan suhu tersebut menyebabkan bertambahnya ikan yang di dasar dan bertambahnya ikan yang oleng, ini dipengaruhi oleh ikan terhadap respon penurunan suhu menyebabkan ikan mengalami Peningkatan aktivitas metabolisme ikan, Penurunan gas (oksigen) terlarut dan terganggunya pada proses reproduksi ikan serta jika penurunan suhu secara ekstrim bisa menyebabkan kematian ikan.
KESIMPULAN
            Kesimpulan dalam praktikum pengaruh penurunan suhu terhadap tingkah laku ikan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan kehidupan ikan, jika ikan hidup  tidak sesuai dengan suhu yang diinginkannya besar kemungkinannya ikan tersebut tidak dapat berkembang atau hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar
Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Darmadi. 2009. Laporan Praktikum Fisiologi Hewan (Operkulum Ikan). Bandung.
Koesbiono, 1980. Biologi Laut. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Wulangi, K.S., 1993. Prinsip-prinsip fisiologi Hewan Air. Dirjen Pendidikan Tinggi.
Jakarta. 
Diakses pada tanggal  27 April 2013 jam 22.05 WIB

PENGARUH CAHAYA TERHADAP TINGKAH LAKU IKAN



PENGARUH CAHAYA TERHADAP TINGKAH LAKU IKAN


PENDAHULUAN

1.2.Tingkah Laku Ikan terhadap Cahaya

Umumnya organisme hidup yang media hidupnya di air terangsa atau tertarik dengan sinar atau cahaya (phototaxis positif), karena itu iakn selalu berusaha mendekati sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya (Subani dan Barus, 1989). Lebih jauh lagi Ayodhyoa (1985) menjelaskan bahwa peristiwa berkumpulnya ikan di bawah cahaya dapat dibedakan  sebagai berikut: Peristiwa langsung: yaitu ikan-ikan tersebut memang tertarik oleh cahaya lalu berkumpul (phototaxis positif), dan Peritiwa tak langsung; yaitu karena adanya cahaya emnjadikan plankton-plankton dan ikan-ikan kecil berkumpul, lalu ikan-ikan sasaran tangkapan datang mendekat dan berkumpul dengan tujuan untuk mencari makan berupa plankton atau ikan-ikan kecil tersebut. Dragesund (1985), menemukan bahwa kadang-kadang ikan menunjukkan gerakan vertikal ke atas dengan cepat menuju sumber cahaya (lampu) yang secara tiba-tiba dinyalakan, dan beberapa menit kemudian mereka akan bubar atau turun ke bawah sampai pada jarak tertentu.

1.2. Respon Penglihatan Ikan Terhadap Perbedaan Warna (Optical Stimuli)

Ikan sebagaimana jenis hewan lainnya mempunyai kemampuan untuk dapat melihat pada waktu siang hari yang berkekuatan penerangan beberapa ribu luk hingga pada keadaan yang hampir gelap sekalipun. Struktur retina maka ikan yang berisi reseptor dan indera penglihatan sangat bervariasi untuk jenis ikan yang berbeda (Fiqrin, 2011). Cahaya merupakan salah satu faktor yang diperlukan dalam prose fotosintesis. Dan cahaya dengan segala aspek yang dikandungnya seperti intensitas dan panjang gelombang akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap pergerakan atau tingkah laku ikan (Fiswan,2011).
1.3. Kaitan Cahaya dengan Proses Penangkapan
`           Metode akustik melalui penangkapan sonar atau echosounder dapat digunakan untuk study tingkah laku ikan (migrasi vertikal dan horisontal), keceapatan renang, respon ikan terhadap stimuli dan lain-lain (Muhammad Sulaiman, 2006). Pergerakan ikan cenderung memutar mengitari sumber pencahayaan dan kadang-kadang bergerak menjauhi kemudian mendekati lagi. Ketika hauling (hanya lampu fokus menyala). Kawanan ikan sudah memiliki pola yang teratur sekitar waring mendekati lagi. Badan tepat dibawah rangka bagan. Pola penyebaran kawanan teri berada dibawah rangka bagan. Ikan kembung dan tembang berada di sekitar bingkai bagan, pola distribusi ikan membentuk pola spherical. Pola pergerakan ikan diluar daerah pencahayaan membentuk pola tersusun secara vertikal seperti pita (ribbon). Ikan-ikan kawanan kecil cenderung mempunyai pergerakan cepat, dan menurun kecepatannya di sekitar pencahayaan akibat padatnya kawanan dan aktifitas makan (Saleh, 2010).


LANGKAH KERJA
Langkah kerja pada praktikum Pengaruh Cahaya Terhadap Ikan adalah menyiapkan 3 buah akuarium dengan ikan mas (29 ekor) dan ikan nila (22 ekor), kemudian akuarium diberi air dan ikan dimasukan, akuarium diletakan pada ruangan yang gelap, hanya diberi penerang cahaya lampu merah, kuning dan biru setiap akuarium satu lampu, kemudian diamati posisi ikan mas dan juga nila yang berda di permikaan, kolom,dan dasar perairan dihtung setiap menitnya agar diketahuahi perbedaan jumlah. Setelah diperoleh data, data diubah kedalam bentuk grafik ms. Exel dengan cara membuat table percobaan kemudian diblok dan pilih menu insert lalu kolom akan muncul grafik sesuai data yang kita inginkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
A. Ikan Mas
Gambar 1 : Pengaruh cahaya terhadap tingkah laku ikan Mas

B. Ikan Nila
Gambar 2 : Pengaruh cahaya terhadap tingkah laku ikan Nila

3.2. Pembahasan
            Gambar 1 menunjukan bahwa respon cahaya yang paling banyak ikan mas berkumpul pada lampu warna kuning pada dasar perairan dan terjadi nilai terkecil pada lampu merah dipermukaan perairan, ini menunjukan bahwa respon cahaya merah kurang di sukai ikan mas. Gambar 2 menunjukan bahwa respon cahaya yang paling banyak ikan Nila berkumpul pada lampu warna kuning pada dasar perairan dan terjadi nilai terkecil pada lampu merah dipermukaan perairan dan pada lampu biru ikan nila hampir stabil antara yang dipermukaan, ditengah, dan di dasar perairan. Ini menunjukan bahwa respon cahaya lampu biru stabil dan sukai ikan Nila .
KESIMPULAN
Kesimpulan dalam praktikum tingkah laku ikan terhadap cahaya bahwa kadang-kadang ikan menunjukkan gerakan vertikal ke atas dengan cepat menuju sumber cahaya (lampu) yang secara tiba-tiba dinyalakan, dan ikan sangat menyukai cahaya kuning di bandingkan dengan cahaya merah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar
Pengembangan Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Dahuri, Rokhmin., J. Rais., S.P.Ginting., M.J.Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumber
Daya Wilayah Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu. Cetakan kedua, Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta

Tim Fisiologi. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi. Bandar Lampung: Universitas  
Lampung

Wahyono, A dan S.P. Prabowo. Sistem Operasi Kapal Purse Seine Asal Jawa
dengan Nelayan Pantai Kalimantan Selatan di Selat Makasar. Jurnal
Ariomma Vol. 25 No. 22-26 Th.
2009. hal 1-15

Wulangi, K.S., 1993. Prinsip-prinsip fisiologi Hewan Air. Dirjen Pendidikan Tinggi.
Jakarta. 

http://firarosalina.blogspot.com/2012/03/respon-penglihatan-ikan-terhadap.html

Selasa, 16 April 2013

PROFIL MENEGAK SUHU DAN LAPISAN TERMOKLIN


NAMA : ALAN SUPARTA
NIM           : 4443112081

PROFIL MENEGAK SUHU DAN LAPISAN TERMOKLIN

PENDAHULUAN
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital yang secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang relative sempit biasanya antara 0-40°C, meskipun demikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu sampai 85°C.  Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik
Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30°C. Perubahan suhu di bawah 20°C atau di atas 30°C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti oleh menurunnya daya cerna (Trubus Edisi 425, 2005). Oksigen terlarut pada air yang ideal adalah 5-7 ppm. Jika kurang dari itu maka resiko kematian dari ikan akan semakin tinggi. Namun tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa ikan yang mampu hidup suhu yang sangat ekstrim. Dari data satelit NOAA, contoh jenis ikan yang hidup pada suhu optimum 20-30°C adalah jenis ikan ikan pelagis. Karena keberadaan beberapa ikan pelagis pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi. Faktor oseanografis yang dominan adalah suhu perairan. Hal ini dsebabkan karena pada umumnya setiap spesies ikan akan memilih suhu yang sesuai dengan lingkungannya untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya. Seperti misalnya di daerah barat Sumatera, musim ikan cakalang di Perairan Siberut puncaknya pada musim timur dimana SPL 24-26°C, Perairan Sipora 25-27°C, Perairan Pagai Selatan 21-23°C.
Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menentukan “kekuatan keturunan” dan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut.
Suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan, mulai dari telur, benih sampai ukuran dewasa. Suhu air akan berpengaruh terhadap proses penetasan telur dan perkembangan telur. Rentang toleransi serta suhu optimum tempat pemeliharaan ikan berbeda untuk setiap jenis/spesies ikan, hingga stadia pertumbuhan yang berbeda. Suhu memberikan dampak sebagai berikut terhadap ikan ; suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan peningkatan suhu, peningkatan aktivitas metabolisme ikan, penurunan gas (oksigen) terlarut, efek pada proses reproduksi ikan, suhu ekstrim bisa menyebabkan kematian ikan. (Anonim, 2009. SITH ITB).
Lapisan Thermocline (termoklin) adalah lapisan yang membagi 2 massa air di perairan, lapisan ini merupakan lapisan pembatas antara air yang berada di permukaan dan yang berada di bawahnya, pada umumnya lapisan ini memiliki flukstuasi suhu yang sangat tajam dibandingkan dengan lapisan air lainnya .

LANGKAH KERJA
Langkah kerja yang harus di lakukan atau yang harus dipersiapkan yaitu pertama persiapkan terlebih dahulu laptop dan hidupkan, kemudian buka ODV 4 yang sudah terinstal, lalu klik file kemudian pilih New selanjutnya di Create New Collection, lalu tulis nama file yang akan kita buat, kemudian muncul Creating Collection pilih yang paling bawah yaitu Word Ocean Database kemudian Oke, lalu pada Select Template File tulis nama yang tadi kita buat kemudian Oke, sesudah muncul gambar kemudian perkecil gambar sampai 2 kali percobaan, kemudian klik View lalu layout template kemudian pilih 1 STATION Window kemudian klik, kemudian pilih Temperature lalu klik di daerah yang hendak kita amati.

HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
 Gambar 1 profil menegak suhu berdasarkan kedalaman perairan di stasiun 1,2,3,4, dan 5
3.2. pembahasan
Gambar 1 menunjukan bahwa pada stasiun 1 yang berwarna biru terjadi penurunan suhu seiring dengan bertambahnya kedalaman. Suhu permukaannya sebesar 26.64ºc dan terus berkurang hingga 12.59°c pada kedalaman 261 m. lapisan termoklin terjadi pada kedalaman 41-170 m dimana terjadi penurunan suhu yang drastis dari 25.05°c menjadi 18.00°c . Ini membuktikan bahwa suhu diperairan semakin dalam semakin menurun.

KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah dibahas dapat disimpulkan bahwa untuk lapisan termoklin yaitu pada kedalaman 41-170 m dengan suhu permukaan 26.64ºc.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Teknologi Pengelolaan Kualitas Air Kualitas Air Dan Pengukurannya.

Anonim 2. 2008. Media Budi Daya Ikan.