Selasa, 12 Februari 2013

LAPORAN EKOSISTEM PERAIRAN MENGALIR


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan timbal balik antar organisme hidup dengan lingkungannya. Salah satu kajian dari ekologi adalah ekosistem tempat organism itu hidup. Ekosistem (satuan fungsi dasar dalam ekologi) adalah suatu sistem yang didalamnya terkandung komunitas hayati dan saling mempengaruhi antara komponen biotik dan abiotik. Berdasarkan salinitasnya ekosistem perairan dibedakan menjadi tiga yaitu ekosistem perairan tawar, ekosistem perairan payau, dan ekosistem perairan laut (E.P. Odum,1998)
Menurut Anggraini (2007), perairan permukaan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu badan air tergenang (standing water atau lentik) dan badan air mengalir (flowing water atau lotik). Ekosistem perairan mengalir merupakan perairan terbuka yang dicirikan dengan adanya arus dan perbedaan gradien lingkungan serta interaksi antara faktor biotik dan abiotik (Sutrisno, 1991). Salah satu bentuk dari perairan mengalir adalah sungai. Sungai adalah suatu perairan terbuka, memiliki arus, adanya perbedaan gradien lingkungan, serta masih memiliki pengaruh-pengaruh daratan. Sungai memiliki beberapa ciri antara lain : memiliki arus, resident time (waktu tinggal arus) cepat, organisme yang ada memiliki adaptasi biota khusus, substrat umumnya berupa batu, kerikil, pasir, dan lumpur, tidak terdapat stratifikasi suhu dan oksigen, serta sangat mudah mengalami pencemaran dan mudah pula menghilangkannya (Odum, 1993).
Faktor yang diamati adalah parameter fisika yang diukur meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus dan kenduktivitas. Sedangkan parameter kimia yang digunakan yaitu pH yang diukur dengan menggunakan pH meter. Suhu dengan pengukuran menggunakan thermometer sebesar, kedalaman yang diukur dengan menggunakan sech dish, kecerahan, dan konduktivitasnya. Hal-hal yang mempengaruhi ekosistem perairan adalah faktor fisika dan kimia, faktor kimia dan faktor fisika akan mempengaruhi jumlah, komposisi, keanekaragaman jenis, produktivitas perairan.

1.2    Tujuan
Adapun Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengertian ekosistem perairan tergenang. Untuk mengetahui dan memahami faktor yang berpengaruh terhadap perairan mengalir dan mengetahui parameter fisika, kimia, dan biologi.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Parameter Fisika Perairan
a. Kecerahan
Menurut Pratama (2009), menyatakan bahwa kecerahan merupakan ukuran transportasi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchidisk. Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan ke dalam air dan dinyatakan dengan (0/00), dari beberapa panjang gelombang di daerah spectrum yanh terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar 1 meter, jatuh agak lurus pada permukaan air. Stratifikasi kolam air pada perairan tergenang yang disebabkan oleh intensitas cahaya yang masuk ke perairan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu lapisan Eutrofik, lapisan Kompensasi dan lapisan Preufondal.
Menurut Akrimi dan Subroto (2002),menyatakan bahwa kecerahan air berkisar antara 40-85 cm,tidak menunjukkan perbedaan yang besar.Kecerahan pada musim kemarau adalah 40-85 cm,dan pada musim hujan antara 60-80 cm,kecerahan air di bawah 100 cm tergolong tingkat kecerahan rendah. Berdasarkan intensitas cahaya perairan Bahari secara verttikial bibagi menjadi 3 wilayah,yaitu zona Eupoti, zona disfotik dan zona Afotik.

b. Salinitas
Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air. Setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida,semua bromide dan iodide digantikan oleh klorida dan semua bahan anorganik telah dioksida. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (%). Nilai salinitas perairan tawar biasanya kurang dari 5%. Perairan payau antara 0,50%-30%, dan perairan laut 30%-40%. Pada perairan pesisir, nilai salinitas sangat dipengaruhi oleh masuknya air tawar di sungai (Pratama, 2009).
Menurut Agrifishery (2010), menyatakan bahawa salinitas dapat dilakukan dengan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan refraktometer atau salinometer. Satuan untuk pengukuran salinitas adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (%). Nilai salinitas untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 6-89 ppt dan perairan laut berkisar antara 30-35 ppt.

c. Suhu
Menurut Maire dalam Arfiati (1989), menyatakan bahwa suhu secara ekologi akan mempengaruhi penyebaran (distribusi) spesies. Karena organisme cenderung menempati lingkungan yang bersuhu sesuai bagi kehidupannya. Suhu secara fisiologi dapat mempengaruhi berbagai aktivitas biologi di dalam sel. Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude) waktu dalam air, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran air, serta kedalaman badan air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viscusitas, rekasi kimia, evaporasi dan volansisasi. Peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen melakukan proses metabolisme dan respirasi. Ikan akan mengalami kerentanan tehadap penyakit pada suhu  yang kurang optimal. Fluktuasi suhu yang terlalu beasr akan menyebabkan ikan stress yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan (Pratama, 2009)
Menurut Wibawa (2010), menyatakan bahwa stratifikasi suhu pada kolam air dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1.   Lapisan Epilimnion yaitu lapisan sebelah atas perairan yang hangat dengan penurunan suhu relatif kecil (dari 320 C menjadi 280 C).
2.   Lapisan termokim yaitu lapisan tengah yang mempunyai penurunan suhu sangat tajam (dari 280 C menjadi 210 C).
3.   Lapisan lipolimnion yaitu lapisan paling bawah dimana pada lapisan ini perbedaan suhu sangat kecil, relatif konstan.

d. Kecepatan arus
Menurut Hynes dalam Arfiati (1989), menyatakan bahwa kuat lemahnya arus dapat mempengaruhi komunitas perifoton dan  berbagai komunitas hidrobiotik lainnya. Perairan berarus lemah, lebih banyak dihuni oleh perifeton dari pada perairan berarus kuat. Pada perairan berarus kuat, dengan kecepatan arus 1,21m/detik atau lebih sehingga hanya organisme-organisme yang dapat menempel dengan kuat saja yang dapat menetap karena tidak terbawa arus. Beda perairan berarus lemah dengan kecepatan arus 0,20 m/detik, algae perifeton akan lebih mudah berkembang, tetapi pada kecepatan arus kuat (1,00 m/detik) jumlah dan jenis alga perifeton akan menurun karena adanya tekanan mekanik arus (Liudstrom dan traen dalam Tesis, Arfiati, 1989).
e. Tipe Substrat
Menurut Flamid (2010), bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari, bahan lain hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup.
Menurut Djum 1971 dalam Sahri et al. 2000. substrat dasar yang berupa batuan merupakan habitat yang penting baik dibandingkan dengan substrat pasir dan kerikil. Substrat pasir dan kerikil mudah sekali terbawa oleh arus air. Sedangkan substrat batuan tidak mudah terbawa oleh arus air. Kandungan bahan organik menggambarkan tipe dan substrat dan kandungan nutrisi di dalam perairan. Tipe substrat berbeda-beda seperti pasir Lumpur dan tanah liat (Sembiring, 2008)
Menurut Suliati (2006), kecerahan arus sungai dipengaruhi oleh kemiringan. Kekasanan kadar sungai. Kedalaman dan kelebaran sungai sehingga kecepatan arus di sepanjang aliran sungai dapat berbeda-beda yang selanjutnya akan mempengaruhi jenis substrat dasar sungai pada umumnya, tipe substrat dalam sungai dapat berupa Lumpur, pasir, kerikil dan sampah.

2.2 Parameter Kimia
            a.  pH
pH adalah cerminan dari derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion hydrogen menggunakan rumus umum pH=-log(H+). Air murni terdiri dari ion H+dan OH- dalam jumlah berimbang hingga pH air murni biasanya 7. Makin banyak ion OH- dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi Ph. Cairan demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya makin banyak ion H+ makin rendah Ph dan cairan tersebutbersifat masam. Sebagian besar danau ber pH 6-9. Danau sadah (soda lake)ber pH 11,5. Danau asam dapat disebabkan karena hujan asam akibat polustri industry sehingga kapasitas buffer menghilang. Danau di padang pasir Afrika Tengah (Danau Utan)=air yang masuk lebih kecil dan jumklah air yang keluar. Akibatnya menjadi danau yang alkali. Sehingga variasi tanaman dan hewan juga rendah (Arfiati, 2001).
            b.   DO
Menurut Arfiati (2001),menyatakan bahwa air yang sangat dingin mengandung kurang dari 5% O2 dan akan menurun jika suhu air bertambah. Berkurangnya O2 karena respirasi dan dekomposisi. Perairan dengan O2 tinggi, keragaman organism biasanya tinggi. Jika O2 menurun,hanya organism yang toleran saja yang dapat hidup di tempat tersebut. Variasi O2 danau oligotroph biasanya rendah, sebaliknya danau eutroph tinggi. Sumber-sumber O2: Atmosfer : difusi, angin dan Fotosintesis.
Menurut Sudaryati(1991), menyatakan bahwa di perairan alam konsentrasi oksigen terlarut dalam fungsi dari proses biologi seperti proses fotosintesa dan respirasi dan proses fisika seperti pergerakan air dan suhu. Di permukaan air konsentrasi oksigen rendah, dikedalaman tertentu di daerah fotik mencapai maksimum, dan di dasar perairan konsentrasinya menurun lagi, selama stratifikasi panas, konsentrasi oksigen terlarut di dasar perairan rendah karena pengambilan oleh mikroba untuk respirasi.

2.3 Parameter Biologi
            a. periphyton
Perifiton adalah komunitas organisme yang hidup di atas atau sekitar substrat yang tenggelam.  Substrat tersebut dapat berupa batu-batuan, kayu, tumbuhan air yang tenggelam, dan kadangkala pada hewan air (Odum 1971).
Menurut Weitzel (1979), perifiton terdiri dari mikroflora yang tumbuh pada semua substrat tenggelam. Pada umumnya perifiton di perairan mengalir terdiri dari diatom, (Bacillariophyceae), alga biru berfilamen (Myxophyceae), alga hijau berfilamen (Chlorophyceae), bakteri atau jamur berfilamen, protozoa, dan rotifera (tidak banyak pada perairan tidak tercemar), serta beberapa jenis serangga (Welch 1952).  Berdasarkan tipe substrat  tempat menempelnya, perifiton dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1)    Epilithic, perifiton yang menempel pada batu.
2)   Epipelic, perifiton yang menempel pada permukaan sedimen.
3)    Epiphytic, perifiton yang menempel atau hidup pada permukaan daun atau batang tumbuhan.
4)   Epizoic, perifiton yang menempel pada permukaan tubuh hewan.
5)    Epidendritic, perifiton yang menempel pada kayu.
6)    Epipsamic, perifiton yang menempel pada permukaan pasir

b. Benthos
Bentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan (substrat) baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Bentos hidup di pasir, lumpur, batuan, patahan karang atau karang yang sudah mati. Substrat perairan dan kedalaman mempengaruhi pola penyebaran dan morfologi fungsional serta tingkah laku hewan bentik.Hal tersebut berkaitan dengan karakteristik serta jenis makanan bentos.
Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida. Klasifikasi benthos menurut ukurannya : Makrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih besar dari 1 mm (0.04 inch), contohnya cacing, pelecypod, anthozoa, echinodermata, sponge, ascidian, and crustacea. Meiobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran antara 0.1 - 1 mm, contohnya polychaete, pelecypoda, copepoda, ostracoda, cumaceans, nematoda, turbellaria, dan foraminifera. Mikrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0.1 mm, contohnya bacteri, diatom, ciliata, amoeba, dan flagellata (Anonymous, 2012).
           
                      c.  Plankton
Secara sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan tumbuhan renik yang terhanyut di laut.  Nama plankton berasal dari akar kata Yunani “planet” yang berarti pengembara. Istilah plankton pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh Victor Hensen direktur Ekspedisi Jerman pada tahun 1889 (Charton dan Tietjin, 1989).
Plankton terdiri dari dua kelompok besar organisme akuatik yang berbeda yaitu organisme fotosintetik atau fitoplankton dan organisme non fotosintetik atau zooplankton.
  
→     Fitoplankton
Fitoplankton adalah organisme yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak memiliki daya gerak, sehingga eksistensinya sangat dipengaruhi oleh gerakan air seperti arus, dan lain-lain (Odum 1971).  Menurut Reynolds (1984), fitoplankton yang hidup di air tawar terdiri dari tujuh kelompok besar filum, yaitu: Cyanophyta (alga biru), Cryptophyta, Chlorophyta (alga hijau), Chrysophyta, Pyrrhophyta (dinoflagellates), Raphydophyta, dan Euglenophyta.
Setiap jenis fitoplankton yang berbeda dalam kelompok filum tersebut mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap kondisi perairan, sehingga 9 komposisi jenis fitoplankton bervariasi dari satu tempat ke tempat lain (Welch, 1952).
Menurut Welch (1952), plankton air tawar dibedakan menjadi limnoplankton dan rheoplankton. Limnoplankton adalah plankton yang hidup di perairan tergenang, sedangkan rheoplankton adalah plankton yang hidup di perairan mengalir. Beberapa faktor yang mempengaruhi distribusi kelimpahan fitoplankton dalam suatu perairan adalah arus, kandungan unsur hara, predator, suhu, kecerahan, kekeruhan, pH, gas-gas terlarut,  maupun kompetitor. 

→   Zooplankton
Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut secara pasif karena terbatasnya kempuan bergerak. Berbeda dengan fitoplankton , zooplankton hampir meliputi seluruh filum hewan mulai dari protozoa (hewan bersel tunggal) sampai filum Chordata (hewan bertulang
d. Nekton
Nekton adalah organisme yang dapat berenang dan bergerak dengan kemauan sendiri. Kelompok organisme yang termasuk nekton adalah : Vertebrata (ikan bertulang rawan, seperti hiu dan pari ; ikan bertulang keras, seperti kakap, tuna, dll ; penyu ; ular ; mamalia laut, seperti paus). Mollusca (sotong dan cumi-cumi).
            e. Neuston
Neuston, adalah  organisme yang hidupnya berada di atas permukaan air. Yang termasuk kedalam neuston adalah serangga air.

BAB 3
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Kegiatan praktikum Ekologi Perairan mengenai Ekosisten Perairan Mengalir dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 18 November 2012 dan menganalisis plankton dan bhentos pada hari Jum’at, tanggal 30  November tepatnya pukul 09.00 WIB. Adapun tempat pelaksanaan di labotarium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang Banten.

3.2 Alat dan Bahan
            Dalam kegiatan praktikum Ekologi Perairan mengenai Ekosisten Perairan Mengalir, adapun alat yang digunakan seperti bola pimpong, meteran, transek, seckhidisk, sendok semen, DO meter, pH meter, dan Refractometer. Kemudian menggunakan bahan seperti sampel air, sampel plankton, sampel benthos dan alkohol.

3.3 Prosedur Kerja
a. Kecerahan
Dalam pengamatan kecerahan digunakan alat secchi disk yang dimasukan dalam perairan. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali di setiap substasiun secara diagonal agar mewakili kecerahan tiap-tiap substasiun. Alat secchi disk yang terdiri dari warna hitam dan putih dicelupkan ke dalam air secara tegak lurus dengan perlahan-lahan. Untuk pengamatan pertama diperhatikan ketika warna putih secchi disk mulai tidak tampak, ini dicatat sebagai D1. Setelah itu secchi disk diangkat kembali dengan perlahan dan ketika warna putih mulai terlihat dicatat sebagai D2. 
b. Suhu 
Untuk mengetahui suhu perairan dilakukan dengan menggunakan termometer lapangan. Caranya yaitu dengan mencelupkan termometer secara perlahan ke dalam air, dengan memegang tali yang diikatkan pada termometer agar suhu tubuh praktikan tidak mempengaruhi suhu yang ada pada termometer, kemudian dilihat skala suhunya setelah dicelupkan ke dalam air selama kira-kira 1 menit. Pengukuran suhu dilakukan sebanyak tiga kali ulangan di tiap SS secara diagonal agar mewakili suhu tiap-tiap substasiun.

c. Kedalaman
 
Pengukuran kedalaman dilakukan dengan paralon berskala. Paralon berskala ini dimasukkan ke dalam perairan dengan posisi tegak sampai menyentuh dasar perairan. Batas yang ditunjukkan pada paralon adalah kedalaman dari perairan tersebut. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali ulangan pada setiap substasiun. 
d. Tipe Substrat
Menentukan tipe substrat dilakukan dengan cara manual. Yaitu dengan memasukkan tangan atau benda yang dapat memastikan substrat di dalam perairan, kemudian disentuh dan diambil sedikit substrat pada tiap-tiap substasiun untuk diamati secara visual. 
e. Kecepatan Arus 
Kecepatan arus dilakukan dengan menggunakan bola pingpong yang ditaruh di permukaan sungai sejalan arah arus, di sampingnya telah diletakkan pipa yang bertujuan untuk mengukur jarak yang ditempuh bola pingpong dengan menghitung waktu yang diperlukan oleh bola pingpong untuk sampai pada ujung pipa lainnya dengan menggunakan stopwatch. 
f. Lebar Sungai dan Lebar Badan Sungai 
Pengukuran lebar sungai dan lebar badan sungai dilakukan pengukuran dari ujung sisi yang satu ke ujung sisi yang lainnya, biasanya lebar badan sungai lebih lebar dari lebar sungai, lebar badan sungai diukur dari ujung sisi sungai hingga ke ujung lainnya, sedangkan lebar badan sungai diukur dari ujung sisi sungai yang masih terdapat air hingga ujung sisi lainnya yang masih terdapat air . 
g. Plankton 
Sampel plankton diambil dengan cara menyaring air lapisan permukaan sebanyak 100 liter dengan menggunakan ember yang memiliki volume 10 liter. Sampel tersebut di saring menggunakan planktonet dengan ukuran 45μm, air sampel yang tersaring dimasukkan ke dalam botol sampel bervolume 30 ml dan diawetkan menggunakan pengawet lugol sebanyak 3-5 tetes dan kemudian diamati di labotarium menggunakan mikroskop.
h. Perifiton 
Perifiton diambil dengan mengerik substrat berukuran 2x2cm yang telah kita dapatkan yang berupa kayu-kayu ataupun bebatuan. Hasil pengerikan tersebut kita sediakan dalam kaca preparat untuk kita amati dengan mikroskop. 
i. Bentos 
Pengambilan bentos dilakukan dengan menggunakan surber yang diletakkan di dasar sungai, dasar perairan diaduk dahulu, surber diserok ke dasar perairan agar substrat dapat terambil, kemudian dipisahkan bentosnya dan dimasukkan ke dalam plastik. 
j. salinitas
            Pengambilan sampel salinitas dilakukan dengan refraktometer yang di bersikan dengan aquadest lalu Bersihkan dengan kertas tisyu sisa aquadest yang tertinggal dan teteskan air sampel yang ingin diketahui salinitasnya kemudian lihat ditempat yang bercahaya dan akan tampak sebuah bidang berwarna biru dan putih lalu Garis batas antara kedua bidang itulah yang menunjukan salinitasnya.
k. pH
            pengambilan sampel pH dengan menggunakan keretas indikator dilakukan dengan memasukan keretas pH kedalam air selama 10 s/d 30 detik kemudian ambil dan amati warna yang paling cerah pada tabel pH yang ada pada bungkus keretas indikatornya, sedangkan pengambilan sampel dengan alat pH meter dilakukan dengan mencelupkan bagian indikator bagian sensitifnya kedalam air terus kita tinggal melihat berapa pHnya pada monitor.
 .

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Parameter Fisika
            ¤  Kecerahan
                        Pengamatan 1 : 60+70/2 = 65
                        Pengamatan 2 : 50+60/2 = 55
                        Pengamatan 3 : 40+65/2 = 52,5
            ¤  Suhu
                        Pengamatan 1 : 27ºc
                        Pengamatan 2 : 27ºc
                        Pengamatan 3 : 27ºc
            ¤ Kedalaman
                        Tinggi pinggir : 50 cm
Tinggi Tengah : 83 cm
            ¤ Tipe Substrat
                        Pada perairan sungai mengalir banyak ditemukan batuan berlumpur.
            ¤ Kecepatan Arus
                        Pengamatan 1 : 13;25 detik
                        Pengamatan 2 : 17;38 detik
                        Pengamatan 3 : 10;03 detik
            ¤ Lebar Sungai dan Panjang Sungai
                        Lebar Sungai : 15 m
                        Panjang Sungai : 25 m

4.1.2 Parameter Kimia
            ¤ Salinitas
                        Pengamatan 1 : 0
                        Pengamatan 2 : 0
                        Pengamatan 3 : 0
            ¤ pH
            →Menggunakan keretas indikator ;
                        Pengamatan 1 : 6
                        Pengamatan 2 : 6
                        Pengamatan 3 : 6
            →Menggunakan pH meter ;
                        Pengamatan 1 : 8,92
                        Pengamatan 2 : 8,96
                        Pengamatan 3 : 8,84
4.1.3 Parameter biologi
            ¤ Identifikasi plankton           
NO
Nama Sampel
Gambar
Jumlah
1
Amoeba




Lebih dari 10
2
Paramecium




Lebih dari 10
3
Nocticula




Lebih dari 5

            ¤ Identifikasi Benthos
NO
Nama Sampel
Gambar
Jumlah
1
Kerang Dara




Lebih dari 5
2
Keong sawah




2 sampel


4.2 Pembahasan
      Dalam parameter fisika kita berkonsentrasi pada suhu, kecerahan, dan kecepatan arus. Pada parameter suhu kita menggunakan termometer. Sementara pada kecerahan alat bantu pengukuran menggunakan secidish. Secidish adalah alat berupa piringan yang terdapat warna hitam dan putih dengan tujuan agar mempermudah proses pengamatan di dalam air. Secidish dimodifikasi dengan meletakkan tongkat bersekala di kengahnya. Kecepatanarus dapat diketahui dengan cara sederhana, yaitu meletakkan bola pingpong pada arus air dan mengukur pergerakan bola tersebut hingga jarak yang ditentukan.
Sementara itu kami juga melakukan pengukuran terhadap parameter kimia, seperti DO, pH, Salinitas. DO dapat diukur dengan menggunakan alat yang dinamakan DO meter. Sementara salinitas dapat diketahui dengan menggunakan alan refrakto meter, dan lakmus atau pH meter digunakan sebagai alat untuk mengukur pH atau kadar keasaman.
Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.
Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka.Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut.Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.
Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup.Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai.Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.
Dari hasil diatas mengenai parameter fisika dan kimia didapat rata-rata kecerahan adalah 57.5 cm, suhu adalah  27ºc, kecepatan arus adalah 13;55 detik, kedalaman adalah 66.5 cm dan tipe substratnya adalah batuan berlumpur, sedangkan salinitasnya adalah 0 dan pH-nya adalah 6. Kemudian parameter biologi didapat dari sampel plankton yang spesiesnya adalah Amoeba, Paramecium, dan Nocticula sedangkan sampel benthos adalah keong sawah .


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1  Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan pada praktikum Ekologi Perairan kali ini antara lain : ekologi perairan dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik atau interaksi antara makluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan yang di maksud tidak hanya faktor abiotik saja, tapi mencakup parasit, predator dan kompetitor. Komunitas benthos sangatlah sensitif pada perubahan kualitas air yang berbatasan dengan motilitas dan kemampuan yang relatif karena merupakan fungsi indikasi kualitas perairan yang efektif. Dalam praktikum Ekologi Perairan didapatkan hasil sebagai berikut : Suhu pada sungai biasanya stabil yaitu 27ºc . pH dari 3 lokasi tersebut pun sama yakni 7. Untuk jenis substrat pada perairan sungai adalah batu berlumpur, sedangkan salinitasnya adalah 0 .

5.2  Saran
Diharapkan kepada praktikan agar lebih teliti dalam melakukan prosedur kerja sekaligus perhitungan dari tiap-tiap parameter pengukuran yang dilakukan sehingga nantinya akan didapatkan hasil yang optimal.





DAFTAR PUSTAKA

Arfiati, Diana. 2009. Strategi Peningkatan Kualitas Sumberdaya pada Ekosistem Perairan Tawar. Universitas Brawijaya : Malang.

Brotowidjoyo, M. D, Djoko T. dan Eko M. 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Liberty: Yogyakarta

Closs, G, Barbara D and Andrew B. 2004. Freshwater Ecology. Blackwell Publishing: Australia.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius: Yogyakarta

Kristanto, Philip. 2002. Ekologi Industri. LPPM. Universitas Kristen Petra : Surabaya

Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University. Press: Yogyakarta

Resosoedarmo, S, Kuswara K dan Aprilani S. 1992. Pengantar Ekologi. Penerbit PT. Remaja Rosda Karya: Bandung

Romimohtarto, K dan Juwana S. 1998. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta

LAPORAN CARA PEMBUDIDAYAAN RUMPUT LAUT (E. cotonii)


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai 81.000 km merupakan kawasan pesisir dan lautan yang memiliki berbagai sumberdaya hayati yang sangat besar dan beragam. Berbagai sumberdaya hayati tersebut merupakan potensi pembangunan yang sangat penting sebagai sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor merupakan sumber devisa bagi negara dan budidayanya merupakan sumber pendapatan nelayan, dapat menyerap tenaga kerja, serta mampu memanfaatkan lahan perairan pantai di kepulauan Indonesia yang sangat potensial. Sebagai  negara kepulauan, maka pengembangan rumput laut di Indonesia dapat dilakukan secara luas oleh para petani/nelayan.
Daerah Lontar merupakan salah satu daerah di kabupaten Serang Provinsi Banten yang potensial untuk pengembangan rumput laut. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu dari aspek teknis usaha budidaya rumput laut mudah dilakukan dan waktu pemeliharaan  relatif singkat, sedangkan dari aspek ekonomi usaha menguntungkan karena biaya pemeliharaan murah.
Salah satu jenis rumput laut yang dibudidayakan di daerah Lontar adalah Eucheuma cottonii. Jenis ini mempunyai nilai ekonomis penting karena sebagai penghasil karaginan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktikum ini adalah agar para praktikan dapat mengetahui cara menanam, dan memanen rumput laut,serta dapat mengetahui penanganan rumput laut setelah panen.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Eucheuma cottonii
Menurut Doty (1985), Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) dan berubah nama menjadi Kappaphycus alvarezii karena karaginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Maka jenis ini secara taksonomi disebut Kappaphycus alvarezii (Doty 1986). Nama daerah ‘cottonii’  umumnya lebih dikenal dan biasa dipakai dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional. Klasifikasi Eucheuma cottonii menurut Doty (1985) adalah sebagai berikut :
Kingdom         :  Plantae
Divisi               :  Rhodophyta
Kelas               :  Rhodophyceae
Ordo                :  Gigartinales
Famili              :  Solieracea
Genus              :  Eucheuma
Species            :  Eucheuma alvarezii
   Kappaphycus alvarezii (Doty, 1985)

Ciri fisik Eucheuma cottonii adalah mempunyai thallus silindris, permukaan licin, cartilogeneus. Keadaan warna tidak selalu tetap, kadang-kadang berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah.  Perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor lingkungan.  Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan (Aslan 1998). Penampakan thalli bervariasi mulai dari bentuk sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus runcing memanjang, agak jarang-jarang dan tidak bersusun melingkari thallus.  Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan ke daerah basal (pangkal). Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari (Atmadja 1996). Umumnya Eucheuma cottonii tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu (reef).  Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang mati (Aslan 1998).
Beberapa jenis Eucheuma mempunyai peranan penting dalam dunia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak karaginan. Kadar karaginan dalam setiap spesies Eucheuma berkisar antara 54 – 73 % tergantung pada jenis dan lokasi tempat tumbuhnya.  Jenis ini asal mulanya didapat dari perairan Sabah (Malaysia) dan Kepulauan Sulu (Filipina).  Selanjutnya dikembangkan ke berbagai negara sebagai tanaman budidaya.  Lokasi budidaya rumput laut jenis ini di Indonesia antara lain Lombok, Sumba, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, Kepulauan Seribu, dan Perairan Pelabuhan Ratu (Atmadja  1996).

2.2 Budidaya Euchema cottonii
Yunizal et al. (2000) menyatakan bahwa sebagai bahan baku pengolahan, rumput laut harus dipanen pada umur yang tepat.  Rumput laut jenis Eucheuma dipanen setelah berumur 1,5 bulan atau lebih. Rumput laut dipanen setelah tingkat pertumbuhannya  mencapai puncak yaitu beratnya mencapai ± 600 g/rumpun. Lama pemeliharaan tergantung dari lokasi, jenis rumput laut serta metode penanaman.
Kandungan karaginan pada Eucheuma sp. mencapai puncak tertinggi pada umur antara 6 – 8 minggu dengan cara pemanenan memotong bagian ujung  tanaman yang sedang tumbuh (Departemen Pertanian 1995). Pemanenan dilakukan bila rumput laut telah mencapai berat tertentu, yakni sekitar empat kali berat awal (dalam waktu pemeliharaan 1,5 – 4 bulan).  Untuk jenis Eucheuma sp dapat mencapai berat sekitar 500-600 g, maka jenis ini sudah dapat dipanen, masa panen tergantung dari metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam (Aslan 1998).
Mukti (1987) menyatakan bahwa pemanenan sudah dapat dilakukan setelah 6 minggu yaitu saat tanaman dianggap cukup matang dengan kandungan polisakarida maksimum.  Pemanenan rumput laut dilakukan  secara keseluruhan (full harvest) tanpa bantuan alat mekanik.  Kadi dan Atmaja (1988) menambahkan bahwa pemanenan rumput laut dapat dilakukan sekitar 1 - 3 bulan dari saat penanaman. Selanjutnya dikatakan bahwa persyaratan  lingkungan yang harus dipenuhi bagi budidaya Eucheuma adalah:
Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu karang, Tempat dan lingkungan perairan tidak mengalami pencemaran, Kedalaman air pada waktu surut terendah 1- 30 cm, Perairan dilalui arus tetap dari laut lepas sepanjang tahun, Kecepatan arus antara 20 - 40 m/menit, Jauh dari muara sungai, Perairan tidak mengandung lumpur dan airnya jernih serta Suhu air berkisar 27° – 28°C dan salinitas berkisar 30 -37 ppt.

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut antara lain adalah:
1.      Suhu
Suhu perairan mempengaruhi laju fotosintesis. Nilai suhu perairan yang optimal untuk laju fotosintesis berbeda pada setiap jenis. Secara prinsip suhu yang tinggi dapat menyebabkan protein mengalami denaturasi, serta dapat merusak enzim dan membran sel yang bersifat labil terhadap suhu yang tinggi.  Pada suhu yang rendah, protein dan lemak membran dapat mengalami kerusakan sebagai akibat terbentuknya kristal di dalam sel. Terkait dengan itu, maka suhu sangat mempengaruhi beberapa hal yang terkait dengan kehidupan rumput laut, seperti kehilangan hidup, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, fotosintesis dan respirasi (Eidman 1991). Sulistijo (1994) menyatakan kisaran suhu perairan yang baik untuk rumput laut Eucheuma adalah 27° – 30°C.

2.      Arus
Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas air laut dan pasang surut yang bergelombang panjang dari laut terbuka (Nontji  1987).  Arus mempunyai peranan penting dalam penyebaran unsur hara di laut.  Arus ini sangat berperan dalam perolehan makanan bagi alga laut karena arus dapat membawa nutrien yang dibutuhkannya. Menurut Sulistijo (1994),  salah satu syarat untuk menentukan lokasi Eucheuma sp adalah adanya arus dengan kecepatan  0,33 - 0,66 m/detik.

3.      Salinitas
Di alam rumput laut Eucheuma sp tumbuh berkembang dengan baik pada salinitas yang tinggi.  Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar dari sungai dapat menyebabkan pertumbuhan rumput laut  Eucheuma  sp menurun. Sadhori (1989) menyatakan bahwa salinitas yang cocok untuk  pertumbuhan rumput laut berkisar 31-35 ppt. Menurut Dawes (1981), kisaran salinitas yang baik bagi pertumbuhan Eucheuma sp adalah 30-35 ppt.  Soegiarto et al. (1978) menyatakan kisaran salinitas yang baik untuk Eucheuma sp adalah 32 - 35 ppt.

4.      pH
Keasaman atau derajat pH merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan alga laut, sama halnya dengan faktor-faktor lainnya.  Aslan (2005) menyatakan bahwa kisaran pH maksimum untuk kehidupan organisme laut adalah 6,5 - 8,5.

2.3 Penanganan Pasca Panen dan Pengolahan
Proses penanganan pasca panen rumput laut masih cukup minim dimana proses penanganan pasca panennya hanya meliputi pencucian dengan air laut, penjemuran, pensortiran, penimbangan dan pengemasan akan tetapi apabila ada permintaan pasar yang meminta produk pasca panen rumput lautnya meliputi proses perendaman air tawar guna menghilangkan atau mengurangi kadar garam pada rumput laut maka petani disana juga akan melakukan proses penanganan pasca panen meliputi pencucian(air laut) dan perendaman (air tawar), penjemuran tahap awal, penggaraman, penjemuran tahap ke dua dan setelah itu penggemasan. Akan tetapi cara yang kedua ini sangat jarang dilakukan oleh petani disana dengan pertimbangan mempermudah serta mempercepat proses penanganannya.


BAB 3
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
            Kegiatan praktikum Komoditas dan Penanganan Hasil Perairan mengenai cara pembudidayaan rumput laut dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 8 Desember 2012. Tepatnya pukul 09.00 WIB. Adapun tempat pelaksanaan di Tempat Budidaya Rumput Laut di Desa Lontar Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang Banten.

3.2 Alat dan bahan
            Ada pun alat dan bahan yang di gunakan untuk praktikum tentang pembudidayaan rumput laut ini yaitu transek, sechidisk, bola pingpong, tongkat ukur, termometer, refrakto meter, DO meter, pH meter, serta aquadestilata.

 3.2 Metode Pengumpulan Data
             Metode pengumpulan data dengan berbagi tugas ada yang pengukuran parameter fisika dan kimia, ada yang berkunjung ke rumah warga untuk mengamati cara pengolahan rumput laut, ada yang wawancara dengan petani rumput laut, dan semua data kami kumpulkan lalu kami mengerjakannya secara berkelompok serta tidak lupa kami mendokumentasikannya untuk bahan presentasi .     

3.3 Prosedur Kerja
            Prosedur kerja dilakukan dengan observasi lapang dan wawancara kepada pak  RT Asmawi dan beberapa petani rumput lain setempat yang berada di desa Lontar kecamatan Tirtayasa kabupaten Serang Banten. Observasi bertujuan untuk mengetahui laut informasi-informasi yang terkait mengenai cara pembudidayaan rumput laut dan bisa mengetahui penanganan rumput laut pada pra panen, panen dan pasca panen, mengetahui jenis habitat yang cocok untuk pembudidayaan dan mengetahui cara pengolahan hasil rumput laut.

Dalam melakukan observasi tersebut yang telah dilakukan, yaitu :
·         Observasi Lapangan
Observasi lapangan merupakan kegiatan pengamatan secara langsung terhadap pembudidayaan rumput laut dan pengukuran arus,salinitas, kecerahan, DO dan pH nya beserta mengamati cara pengolahan dengan bahan baku rumput laut.
·         Wawancara
Wawancara merupakan kegiatan penggalian informasi terhadap beberapa petani rumput laut  yang melakukan pemanenan rumput laut. Wawancara ini sebagai sarana untuk mengetahui informasi-informasi mengenai cara pembudidayaan, cara perawatan, cara pemanenan pra panen dan pasca panen, waktu dan musim pembudidayaan, dan cara peneringan rumput laut kering asin dan kering tawar, beserta mengetahui cara pengolahan bahan baku rumput laut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh anggota kelompok.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
A.    Data perhitungan pada lokasi Lontar

Arus 1                         : 8, 22                          Suhu : 29°C
            Arus 2                         : 7, 75                          PH    : 8, 06    
            Kedalaman      : 81 cm                                    DO   : 1, 77 mgl
Kecerahan       : 60 cm                                             : 2, 55 Prt


B.     Data lembar Kuisioner

1.      Budidaya rumput laut
umur  25 hari untuk bibit sekitar 1 cm thallusnya muda segar, keras tidak layu, dan kenyal. Di ddaerah lontar hanya memproduksi eucheuma cottonii. Peralatan budidaya seperti patok karena metodenya lepas landas, saat angin  utara bagus untuk penanaman rumput laut.  Untuk perawatan    rumput laut dipantau dibersihakan dari kotoran yg melekat dan mengganti tanaman rusak dengan yg baru. Umur pemanenan sekitar 45 hri namun jika ditemukan penyakit 40 hari sudah bisa dipanen dengan cara di angkat sluruh tanaman kedalam perahu. Kendala dalam pembudidayaan rumput laut ini yaitu cuaca panas, terkena rumput/rumput balenang dan bulu batu.

2.      Penanganan pada saat panen
Dibersihkan rumput laut dari kotoran/tanaman lain yg melekat dan melepaskan tali ris yg penuh dengan ikatanrumput laut dari tali utama. Kendala pada penanganan saat panen ini yaitu apabila kedalaman air/air menjadi tinggi.


3.      Penanganan pasca panen
Menjemur rumput laut selama maksimal 2 hari dan di cuci dengan air kapur di fermentasikan selama 3 hari. Setelah itu di cuci dengan air laut dan di cuci kembali dengan air kapur lalu di jemur. Kendala pada pasca panen ini yaitu jika kriteria pabrik terlalu signifikan sehingga tidak dapat di terima oleh pabrik atau harganya relatif menjadi lebih murah.

4.      Pengolahan produk rumput laut
·         Data Pemilik
Bapak Asmawi
            50 th
            Rt 18 lontar kp. Kadiri
            Tahun mlai usaha 2009

·         Dodol Rumput laut :
Jenis produk                : dodol, manisan
Bahan baku dan harga : tepung ketan
Bahan tambahan          : fanili, kayu manis, jeruk nipis.

Tahap proses produksi Dodol Rumput laut :
Untuk pembuatan dodol  rumput laut direndam selama 3  hari dan air selalu diganti 1 hari sekali agar tidak bau. setelah itu ditimbang dan dihancurkan,bisa di blander atau dipotong kecil-kecil. Kemudian diberi rasa tambahan, lalu dimasak dengan perbandingan 1 kg rumput laut menggunakan gula 1 kg, tepung ketan 1 ons, air 1 liter dan di aduk sampai mengental/ menjendal lalu di angkat ditaruh di nampan/ wadah. Setelah dingin, dodol dipotong-potong sesuai ukuran, kemudian dijemur hingga kering. Dodol kering asam harganya berkisaran dari Rp.10.000 sampai Rp.12. 000.

Tahap proses produksi Manisan Rumput laut:
Untuk pembuatan manisan rumput laut ini, rumput laut di rendam selama 3 hari menggunakan air bersih dan di tambahkan irisan jeruk nipis agar bau pada rumput laut menghilang. Pada 1 hari sekali air diganti dan di beri perasan jeruk nipis. Setelah 3 hari, rumput laut ditiriskan dan di rendam dengan larutan gula yang sudah dicairkan dengan air yang sudah dingin. Selama 1 hari sekali rumput laut ditiriskan dan gula di panaskan kembali, setelah air larutan gula dingin rumput laut di rendam lagi. Lakukan pengulangan tersebut hingga 3 hari.

4.2 Pembahasan
Pada hal ini membahas tentang budidaya rumput laut yang dilakukan di daerah Lontar, di sini rumput laut dapat hidup pada kedalaman 81cm karena posisi ini masih terdapat cahaya matahari yang dapat menembus perairan. Kecepatan arus pada perairan di perairan lontar ini sekitar 8,22 s/m, dan mempunyai pH sekitar 8,06 dan suhu 29oc. Pada keadaan ini rumput laut dapat tumbuh dengan baik dan subur. Budidaya rumput laut ini menggunakan sistem longline yang menggunakan tali yang terbuat dari bahan plastik, keunggulan mengunakan tali plastik adalah daya tahan lama dan lebih kuat. Hanya yang mempengaruhi pertumbuhan pada rumput laut pada sistem budidaya ini adalah pada saat musim kemarau, jika rumput laut terkena sinar matahari rumput laut terhambat pertumbuhanna dan mudah terserang penyakit seperti eyes-eyes.
Ciri-ciri rumput laut euchuema cottonii yang bagus adalah thallusnya bercabang-cabang berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina  Eucheuma cottonii  tidak teratur menutupi  thallus  dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulannya yaitu para nelayan yang membudidayakan rumput laut yaitu dengan menggunakan media pelampung seperti kokang dan botol-botol hampa udara yang menerapkan metode longline yang di buat menggunakan bambu yang di sambung dengan tali tambang.
Rumput laut Eucheuma cottonii di panen sekitar 45 hari namun jika ditemukan penyakit, 40 hari sudah bisa dipanen dengan cara di angkat seluruh tanaman kedalam perahu.
Setelah di panen, rumput laut di jemur selama maksimal 2 hari dan di cuci dengan air kapur di fermentasikan selama 3 hari. Setelah itu di cuci dengan air laut dan di cuci kembali dengan air kapur lalu di jemur.

5.2 Saran
Pada praktikum kali ini hanya di sarankan untuk lebih baik lagi ke depannya agar lebih lancar dalam menjalani praktikum lapangan ini.

DAFTAR PUSTAKA


15 Desember 2012